Pilihan

Setuju g klo semua itu boleh milih, hidup itu selalu ada dua hal yang berbeda

Bagaimana siang dan malam menjadi berbeda, bagaimana laki-laki dan perempuan, bagaimana bumi dan langit, bagaimana hitam dan putih, bagaimana jelek dan baik.

semua pati ada dua hal….

Dari satu hal kadang kelihatan jelas mana yang baek dan mana yang buruk, tetapi dalam hidup tak semuanya kelihatan jelas. Seseorang telah ditentukan jalannya masing-masing, tinggal yakin gak kita sama pilihan kita sendiri, terkadang orang sering menjalani suatu aktifitas dengan malas-malasan padahal itu merupakan pilihannya sendiri. Toh kalau itu sudah menjadi pilihannya mengapa harus dijalani dengan ogah-ogahan, bukannya dari awal dia sudah menyatakan kehendak untuk melakukan hal itu.

Dari setiap pilihan yang ditawarkan terkadang kita bingung, mana yang akan berakhir dengan baik, padahal bukan hanya bagaimana akhirnya saja yang harus dilihat, tetapi juga pada perjalannya itu bagaimana. Tapi juga tidak bisa hanya memandang pada akhrinya saja lantas memilih jalan yang paling enak meskipun itu tidak dibenarkan.

Kebimbangan pasti ada di tengah perjalanan, berbagai cara dipakai, berbagai upaya diusahakan. Dan hasilnya pun terkadang berbeda satu dengan yang lain meski dengan upaya yang sama. Apakah semua orang itu harus sama?

Apakah semua orang itu harus satu, kalau menurut ku tidak semua orang akan mendapatkan hasil yang sama meskipun dengan cara yang sama. Allah telah memberikan kadar rejeki bagi tiap-tiap umatnya. Allah memberikan pilihan pada manusia untuk memperoleh jatahnya itu.

Yakin setiap hal pasti mempunyai banyak jalan dan cara yang digunakan, terlepas dari konteks ibadah yaitu menuju surga.

Kalau yang kupilih adalah jalan ini, kenapa orang lain selalu menganggap aku buruk padahal aku sendiri merasa ini baik. Kuanggap ini sebagai jalanku.

Dari pandangan seorang yang disana

karena aku, bapak lupa tersenyum

Bapak
Pak kau ini kenapa tak tersenyum…apakah aku salah, apakah aku belum bisa menjadi anak yang nurut padamu.
Kau tidak salah nak,aku hanya memikirkan kau terus menerus hingga rasa rindu ini selalu hadir ketika semenit setelah kamu pergi. Aku akan tersenyum nak jika kau juga tersenyum. Kamu bertanya aku kenapa tidak tersenyum tapi kamu sendiri tidak tersenyum. Bagaimana akau bisa tersenyum jika kau sedih.
Pulang kok sedih kenapa?
Aku gak sedih pak, aku terlalu seneng ketemu bapak, aku terlalu rindu dengan kamu pak.
Lha trus kenapa kamu sedih? Harusnya ketemu kan seneng.
Aku seneng ketemu bapak, tapi aku juga sedih kalau ketemu bapak, ketika terlintas di fikiranku ini apa yang telah aku buat selama ini, apa yang sudah aku berikan belum seimbang dengan apa yang aku minta.
Aku sedih melihat wajah bapak yang tampak lelah bekerja setiap hari, setiap pagi buta ketika ayam aja belum bangun dan masih benerin selimut, bapak sudah pergi bekerja. Itu buat siapa, ya hanya buat keluarga yang bapak sayangi.
Aku sekolah sudah bertahun tahun bapak, aku gak akan menunggu sampai aku lulus nanti untuk mengucapkan kebanggaanku mempunyai bapak seperti anda. Aku tidak perlu sampai sukses untuk berucap terimakasih karena bapak juga tidak menunggu sampai aku jatuh, tetapi sebelum aku jatuh bapak sudah menolongku.
Hem, senyum yang bapak tampilkan saat itu.
Maafkan aku nak, aku lupa tersenyum dihadapanmu. Senyum dan sedihku sama saja nak, aku selalu senang dengan keluarga ini. Dalam sedihkupun aku senang untuk berbuat hanya untuk keluarga.
Ingat, betapa berat yang kamu bayangkan tentang bapak itu bagi bapak tidak seberat perjuanganmu membahagiakan bapak.
Apa yang engkau katakan pak, selama ini aku belum berbuat apa apa, sekecilpun tidak. Aku selalu protes kalau bapak marah, aku protes kalau bapak ngasih tau, aku selalu protes jika uang saku kurang, aku selalu protes jika bapak salah, tapi bapak menganggapku benar,dalam keadaan usahaku gagal bapak bilang itu bukan salah, tapi takdir, itu jalan hidup yang meski kau jalani.
Bagi bapak, bukan hasil saja yang aku hargai, tetapi proses yang kamu lakukan nak.

Ya Allah, apa yang selama ini aku tampilkan dihadapan bapak…justru itu menambah beban bapak.
Bapak, meskipun kau terkadang marah tetapi aku akan terima itu, karena tak terlalu kusadari selama ini itu sebagai petuahmu yang berharga…

Perut Mules, karena sambel apa uang negara?

Ada ada aja tulisan ini…

Bulan kemarin, si ujo yang dengan tampang sok cool nya pergi dengan teman-temannya. Sore pukul 17.00 tepat ujo nggeber motor langsung tancap ke resto special special (SS). Wah ujo ternyata udah telat, ke 4 temannya sudah nunggu dari tadi. Malah sudah pesen menu makanan.

“Jo kamu pesen  dulu sana” salah satu temen nyuruh gitu

Oke. Bebas kan ini, asyik pesen yang enak ni, mumpung gratis. Biasa anak kosan yang jarang-jarang bisa makan-makan enak gratis pula. Oke aku udah pesen paha ayam atas, dengan sambel tomat penuh dengan bawang putih biar mantab.

Sambil ngobrol yang kesana kemari mereka terlihat asik dan sedikit bersemangat. Karena baru kesempatan ini mereka bisa berkumpul, setelah beberapa saat mereka sibuk dengan urusan masing-masing.

Wah tidak lama menunggu makanan datang. Hemm mantab (kelihatannya gitu)

Ujo langsung ambil makanan pesenannya yang kebetulan juga sudah diantar barengan dengan yang lain.

Wah mantab ni saambel, bisa puas sampai panas perut.

Mereka asik melahap ayam, telur, cumi, pete, kangkung, dan paling utama sambal tomatnya.

Seakan kesurupan mereka terus melahap dengan semangatnya. Seperti balapan makan pas lomba tujuh belasan di kampung-kampung. Tapi memang ini bulan Agustus, apa ini dijadikan lomba aja ya.

Wah tak terasa sejam berlalu, perut kenyang dengan muka penuh keringat bercucuran. Kalau digambarkan dengan majas hiperbola mungkin keringat ujo dan temannya itu telah mengalir deras membanjiri bumi.

Ayo dibayar, siapa ini yang bayar?

Pake uang ini dulu lah” nanti sisanya tinggal dibagi, usul ade

Ini dibagi rata sisanya, ya ini jatah masing-masing. Pembagian uang dari dinas pemerintah untuk penelitian mereka.

“Udah adzan pulang yo”

Semua setuju ajakan ujo.

Malam setelah sholat ujo merasa panas perutnya, hem apa ini karena tadi sore ya” gumam ujo.

Walah malamnya malah boker-boker, wah perut mules, boker-boker, ini karena kebanyakan makan sambel apa karena uang negara.itu yang terlintas di fikiran ujo

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.